7th Dream (6): Mission Completed

Kincir Angin :)

Kincir Angin :)

Dreaming is easy, but its journey is not – but it’s going to be worth it.

***

Surabaya, 16 Agustus 2012,

“4E.”

Itulah nomor bangku yang tertulis di boarding pass saya. Begitu memasuki badan pesawat, saya segera mencari bangku tersebut dan duduk dengan manis. Akhirnya, setelah 6 bulan, saya pulang juga. Walaupun pesawat saya baru dijadwalkan untuk lepas landas pukul 18.40, saya telah menunggu di Bandar Udara Juanda sejak pukul 4 sore. Apalagi kalau bukan untuk menghindari macetnya jalanan Surabaya di H-3 Lebaran tahun ini. Tetapi ternyata antisipasi saya tersebut tergolong berlebihan. Jadilah saya harus menunggu di Juanda nyaris selama 3 jam.

Ketika burung besi yang saya tumpangi menunjukkan tanda-tanda untuk take off, saya mengambil posisi duduk senyaman mungkin dan mulai memejamkan mata. Ada kantuk yang bergelayut di ujung kelopak …

***

Groningen, 8 Juni 2012,

Alarm handphone yang berdering nyaring mulai mengganggu tidur saya dan memaksa saya untuk membuka mata yang masih berat. Saya melihat ke arah jendela. Langit yang mulanya gelap ketika saya memutuskan untuk tidur telah berganti menjadi kelabu muda.

Penasaran dengan pukul berapa saat ini, saya meraih handphone: pukul 04.30 pagi! Saya segera membangunkan Saka dan Fitri yang tengah lelap di sebelah saya. Pagi ini kami berencana meninggalkan Groningen menuju Amsterdam dengan kereta api pukul 05.40 pagi. Oleh karena itu lah, malam terakhir di Groningen ini saya  lewatkan di flat Kirsten – student host Saka dan Fitri di daerah Kamerlingh Onnesstraat yang notabene-nya jauh lebih dekat dengan Groningen Centraal Station dibandingkan flat Frederique. Saya tidak membayangkan jika saya tetap tinggal di flat Frederique. Bagaimana cara saya mencapai Groningen Centraal Station? Tidak ada bus kota yang beroperasi sepagi itu.

Setelah menunaikan Shalat Subuh, kami segera sibuk dengan koper masing-masing. Untung saja kami sudah mengenakan pakaian yang akan kami gunakan hari ini sejak semalam sebelumnya. Jadi tidak butuh waktu lama untuk menyempurnakannya dengan melengkapinya dengan jaket tebal. Jangan tanya soal mandi deh :P

Dengan bersusah payah, kami bertiga mengangkat koper masing-masing dari lantai 3 flat Kirsten berada ke lantai dasar. Nafas saya terasa hampir habis. Namun, sayangnya, itu masih belum apa-apa. Kami masih harus membawa koper-koper tersebut ke Groningen Centraal Station dengan berjalan kaki. Andai ini di negeri sendiri, saya tentu sudah memanggil taksi atau paling tidak becak. Jangan bayangkan jalan yang datar. Semakin mendekati Groningen Centraal Station, langkah kami semakin berat karena jalan yang menanjak. Untuk pertama kalinya sejak saya menginjakkan kaki di Belanda, saya berkeringat. Koper 20 kg saya berhasil menguras tenaga dan menyebabkan telapak tangan saya lecet-lecet. Oke, mari jadikan ini catatan penting untuk traveling berikutnya. Tetapi, bagaimana pun, pengalaman menyeret koper 20 kg pagi-pagi buta ini menjadi salah satu pengalaman yang paling saya ingat dari perjalanan singkat ini. Hehehe.

Sesampainya, di Groningen Centraal Station, kami bertemu dengan Intan dan Ratna, dua orang mahasiswi kedokteran asal Indonesia yang mengikuti konferensi yang sama dengan kami. Kami berlima memang telah mengagendakan nge-bolang alias menjadi bocah petualang selama sehari bersama-sama sebelum kami harus kembali ke Tanah Air.

Sekitar pukul 8 pagi waktu setempat, kami sampai di Amsterdam Centraal dan langsung menuju ke area baggage storage untuk menyingkirkan koper-koper kami sejenak. Setelah menitipkan koper, kami melangkah dengan ringan dan riang menuju shopping street di sekitar Amsterdam Centraal. Tujuan pertama kami adalah gerai Mc Donald. Selain karena makanan ini lah yang paling masuk akal untuk kami, Ratna memiliki kupon dari Mc Donald yang memungkinkan kami untuk membeli makanan dengan harga miring. Teteup lah, di mana-mana, yang namanya mahasiswa selalu menjunjung tinggi prinsip ekonomi: mengeluarkan dana seminimal mungkin untuk mendapatkan makanan semaksimal mungkin. Lebih bagus lagi kalau bisa gratis :P. Hehehe. Walaupun, jujur, saya sudah eneg dengan fast food dan semacamnya yang telah mengakrabi pencernaan saya beberapa hari terakhir ini, tetapi lumayan lah untuk mengganjal perut dan modal berpetualang seharian ini.

Amsterdam berangin!

Amsterdam berangin!

Pada mulanya, kami berencana pergi ke Vollendam – satu tempat yang paling direkomendasikan jika mengunjungi Belanda, pada pagi hari, paling tidak pukul 09.00 pagi dengan menggunakan travel agent yang memang banyak berjamuran di jalanan sekitar Amsterdam Centraal. But, things usually didn’t go as we planned, right? Tour ke Vollendam pukul 09.00 pagi sudah penuh dan memaksa kami untuk mengikuti tour pukul 12.00 siang. Tetapi, tenang saja, tidak ada kata bengong atau menganggur ketika Anda di Amsterdam. Tiga jam di kota cantik itu tidak kami sia-sia kan dan mulai menjelajahi shopping street untuk mencari oleh-oleh bagi kerabat dan sanak saudara di Indonesia atau sekedar window shopping. Satu per satu toko kami masuki, dari yang besar sampai yang kecil, dari yang ramai sampai yang sepi, demi membandingkan harga dari satu toko ke toko lainnya dan mencari harga yang paling bersahabat. Boro-boro harga dengan selisih satu euro, 50 cent saja sudah cukup membuat kami menggerutu. Sehingga beberapa kali lah terdengar kalimat-kalimat semacam, “Di sana lebih murah, beli di sana saja”, “Eh, di toko yang tadi lebih murah lho”, “Mahal banget nih, di toko itu harganya nggak segininya.” Hehehe.

Tidak terasa, tiga jam berlalu. Pukul 12.00 siang, kami berlima melangkahkan kaki ke travel agent yang akan mengantarkan kami menikmati countyside tour dari Marken, Vollendam, dan Windmills, kurang-lebih selama 6 jam. Bersama dengan turis-turis lain yang berasal dari berbagai negara, kami menumpang bus tingkat besar berwarna merah.

di depan bus :)

di depan bus :)

Bus melaju lambat meninggalkan kota. Saya duduk sendiri tepat di samping jendela sambil sesekali mendongak ke langit melalui atap kaca bus. Langit yang semula berwarna biru cerah dengan dikawani serakan awan berubah kelabu dan disusul hujan rintik-rintik. Seorang wanita paruh baya berambut pendek berwarna pirang terang, yang belakangan saya sadari sebagai tour guide kami, mulai memperkenalkan diri dan menjelaskan tentang beberapa hal. Kaca mata berbingkai warna emas yang bertengger di atas hidung mancungnya entah mengapa mengingatkan saya kepada sosok penyihir di film-film fantasi. Apalagi ditambah dengan payung hijau tua dengan hiasan bunga tulip oranyenya. Hehehe.

Bus terus bergerak. Saya memasang headset oranye di kedua telinga saya dan mendengarkan penjelasan tentang tempat-tempat tujuan kami. Sudah mirip tes TOEFL di sesi Listening Comprehension saja. Sayangnya, cuaca tidak mendukung tour kami. Hujan, angin, dan terik datang silih bergantian dalam waktu yang relatif singkat. Di satu saat saya harus merapatkan jaket atau membentangkan payung, tetapi sesaat kemudian mentari bersinar dengan terangnya. Tetapi, hal tersebut tidak mengurangi semangat saya untuk bersenang-senang di hari terakhir di Belanda ini.

Destinasi pertama: Marken! Untuk memasuki Marken, kami melewati sebuah jembatan kecil dengan gerbang berwarna putih dengan tulisan Beatrix Brug. Nyonya Tour Guide tampak bersemangat menjelaskan tentang Beatrix Brug. Namun, sayangnya, saya tidak terlalu memperhatikan penjelasan beliau. Pengunjung lainnya mengerubunginya dan otomatis saya yang kalah postur tidak dapat turut menyimak dengan baik. Dari hasil mencuri dengar, saya menyimpulkan bahwa nama Beatrix Brug mengadopsi nama Ratu Belanda yang pernah berkuasa.

Beatrix Brug

Beatrix Brug

Marken adalah sebuah komunitas yang masih kental suasana tradisionalnya. Salah satu buktinya adalah bangunannya yang didominasi dengan rumah-rumah kayu berwarna hijau tua dengan arsitektur yang nyaris seragam. Tidak ada satu pun rumah yang tidak dihiasi pot-pot bunga warna-warni di terasnya. Selain tanaman dan bunga, beberapa halaman kecil dari rumah-rumah tersebut, memiliki hiasan serupa tokoh film animasi Gnomeo dan Juliet. How cute!

Marken

Marken

Marken

Marken

Bangsa Gnomeo :D

Bangsa Gnomeo :D

Kami juga mendapati sebuah toko sekaligus pabrik kecil yang khusus memproduksi keju dan klompen – selop kayu. Seorang petugas menjelaskan bagaimana keju-keju tersebut diproduksi. Lagi-lagi, karena kalah postur dan lelah terus-menerus berjinjit, saya lebih memilih berkeliling toko untuk melihat-lihat. Selain keju dengan wangi khas dan menyengat, toko tersebut dipenuhi dengan klompen warna-warni yang memiliki beragam ukuran yang tidak hanya berjajar di rak-rak di dinding, tetapi juga digantung di langit-langit. Toko tersebut juga menjual souvenir yang dapat dijadikan sebagai kenang-kenangan atau oleh-oleh.

Klompen Factory

Klompen Factory

Etalase Klompen

Etalase Klompen

Klompen

Klompen

Satu hal yang cukup menarik adalah sebuah batang pohon di depan toko itu. Batang pohon tersebut sudah tidak menyerupai pohon lagi dikarenakan ditempeli klompen-klompen kayu di setiap sisinya. Di setiap klompen-klompen berukuran serupa itu terdapat keping uang logam dengan bermacam nominal. Saya sendiri tidak mengerti maksudnya.

Pohon Klompen :D

Pohon Klompen :D

Puas berkeliling, kami menuju Vollendam dengan menaiki sebuah boat besar. Beberapa menit kami terayun-ayun di tengah laut lepas berteman rintik hujan menuju Vollendam yang memang merupakan kota pelabuhan. Begitu boat berlabuh, kami berlima serempak menuju salah satu studio foto pakaian tradisional Belanda. Berfoto dengan pakaian khas ala Dutch memang menjadi tujuan kami sedari kami memutuskan untuk mengunjungi Vollendam.

Menuju Vollendam w/ Saka, Fitri, & Ratna

Menuju Vollendam w/ Saka, Fitri, & Ratna

Menuju Vollendam w/ Intan, Fitri, & Saka

Menuju Vollendam w/ Intan, Fitri, & Saka

Berlabuh di Vollendam

Berlabuh di Vollendam

Berlabuh di Vollendam

Berlabuh di Vollendam

Ternyata pakaian tradisional Belanda cukup ribet dan memiliki banyak atribut. Mulai dari topi renda berwarna putih, kalung kayu, syal kecil berwarna merah, putih, dan biru, jubah terusan berwarna hitam, semacam celemek renda putih dengan sulaman bunga berwarna-warni, serta yang terakhir: klompen. Memakai klompen cukup menyiksa bagi saya. Selain berat, ujung jemari kaki akan sakit jika tidak menemukan klompen dengan ukuran yang pas. Saya sendiri beberapa kali berganti klompen untuk mencari klompen yang paling nyaman.

Setelah berfoto, kami hanya memiliki waktu yang sangat singkat untuk berkeliling Vollendam dan kami habiskan untuk hunting oleh-oleh di pertokoan-pertokoan yang konon katanya menjual oleh-oleh khas Belanda dengan harga lebih murah dibandingkan dengan Amsterdam. Ah, ternyata setelah dibandingkan, harganya pun tidak jauh berbeda. Keasyikan berbelanja ini membuat kami nyaris tertinggal bus yang akan melaju ke destinasi berikutnya. Hal ini membuat saya sedikit menyesal karena tidak sempat mencicipi fish and chips yang terkenal dengan rasanya yang lezat di sini.

Windmills! Sesuai namanya, di sini kami bisa menjumpai banyak sekali kincir angin yang biasanya hanya saya jumpai di puncak toko roti di Indonesia – Holland Bakery. Jangan ditanya soal angin, angin bertiup sangat kencang di sini. Di samping berwisata kincir angin, di Windmills yang terletak di Zaanse Schans ini, terdapat toko kecil yang menjual souvenir, keju, dan susu. Di sinilah, saya mencoba susu kaleng bermerk Chocomel. Susu berasa coklat seharga € 2,- ini benar-benar nikmat. Jika Anda berkunjung ke sini, Anda harus mencobanya. Tidak hanya dijual di sini, Chocomel juga dipasarkan di toko-toko seantero Belanda. Keesokan harinya, saya juga mendapati susu kaleng ini di Schiphol.

Windmills

Windmills

Jika sebelumnya, ketika di Vollendam, kami nyaris tertinggal bus, di sini kami benar-benar tertinggal bus. Panik? Pasti. Alasan pertama, kami jelas tidak tahu dimana kah letak Zaanse Schans ini dari Amsterdam dan bagaimana cara mencapainya. Sekeliling Zaanse Schans hanya padang rumput yang diramaikan dengan sapi-sapi Holstein yang tampak seperti sekelompok dandelion dari kejauhan. Alasan terakhir? Oleh-oleh serta barang-barang yang kami beli sedari dari Amsterdam, Marken, dan Vollendam, semuanya kami tinggal di bus. Dang!

Hal pertama yang kami lakukan adalah bertanya kepada orang-orang sekitar bagaimana cara kami mencapai Amsterdam Centraal. Syukurlah, kami dapat menggunakan bus kota di Halte Zaanse Schans yang tidak jauh dari sini. Begitu sampai di halte, kami menelpon travel agent dan menanyakan barang-barang bawaan kami yang tertinggal di bus sembari sedikit berharap mereka mau menjemput lima orang Indonesian yang tersesat ini. Sayangnya, mereka hanya menjamin bahwa kami dapat mengambil barang bawaan kami di kantor mereka tanpa memberi solusi bagaimana kami dapat sampai ke sana. Alhasil, satu-satunya yang bisa kami lakukan adalah menunggu bus kota. Sempat terlintas di pikiran saya untuk mencegat kendaraan yang lewat untuk mendapatkan tumpangan seperti di film-film. Apalagi begitu teringat, candaan kakak angkatan di kampus sebelum saya berangkat ke Belanda untuk menyebutkan nama-nama pemain bola asal Belanda untuk berinteraksi dengan penduduk asli. “Van Persie, Van Persie …” Hehehe.

Alhamdulillah, bus kota yang kami tunggu, akhirnya datang juga. Saya merasa lega sekali. Kami berlima naik ke atas bus dan seolah menjadi pemilik bus tersebut – tidak ada penumpang lain. Bus tersebut melaju langsung menuju Amsterdam Centraal. Setelah 1 jam perjalanan, kami sampai di Amsterdam Centraal dan dengan langkah cepat menuju kantor travel agent untuk mengambil barang bawaan kami. Barang bawaan kami lengkap tanpa kurang suatu apa pun.

Sedihnya, petualangan hari ini harus berakhir. Saya, Saka, dan Fitri berpisah dengan Ratna dan Intan di Amsterdam Centraal karena kami menaiki kereta api yang berbeda. Saya, Saka dan Fitri menuju Schiphol untuk menginap di sana seperti malam pertama kami di Belanda. “Sampai ketemu di Indonesia ya!” Ujar kami satu sama lain.

Hari ini, sekali lagi, saya belajar bahwa di setiap rencana kita yang tidak berjalan sesuai rencana, selalu ada rencana Allah yang lebih indah. Pada mulanya, saya merencanakan untuk menghabiskan hari terakhir di Belanda dengan menetap di Groningen dan mengikuti City Tour yang diadakan pihak pelaksana konferensi. Tetapi, kami bertiga, saya, Saka, dan Fitri, sama-sama tidak mendapatkan kursi untuk City Tour tersebut. Maklum, kami membayar biaya konferensi dan lain-lain di hari-hari terakhir.

Akhirnya, seperti yang saya tuliskan di ataslah hari ini berakhir: berlima menjelajah tiga tempat plus dengan pengalaman tertinggal bus yang tidak terlupakan …

***

Amsterdam, 9 Juni 2012,

Saya, Saka, dan Fitri berdiri di depan penginapan yang sama dengan tempat kami menginap pada malam pertama kami di Belanda. Kami menunggu bus yang akan membawa kami ke Schiphol. Saya teringat bagaiman enam hari sebelumnya, kami juga berdiri di tempat yang sama dan menunggu bus yang sama. Tetapi enam hari sebelumnya, kami baru saja akan memulai beberapa hari yang tidak terlupakan sepanjang hidup kami untuk menuju Groningen – kota yang berbulan sebelumnya menjadi wallpaper di handphone saya. Sedangkan hari ini, bus tersebut akan membawa kami ke Schiphol dan kembali ke Tanah Air.

Dingin sekali Amsterdam pagi ini. Uap putih keluar dari mulut saya setiap kali berbicara. Gerimis dan haru memenuhi hati saya. Tidak tahu mengapa, sedih sekali meninggalkan negara ini – negara yang beberapa tahun sebelumnya menjadi negara yang saya masukkan ke daftar teratas negara yang paling tidak akan saya kunjungi. Saya memejamkan mata dan membukanya kemudian, sembari menatap langit kelabu yang akan saya rindukan ini. Satu sisi hati berharap ketika saya membuka mata saya akan kembali ke enam hari yang lalu, hari di mana kisah ini dimulai. Namun, sisi hati yang lain enggan membuka mata, karena takut. Takut jika saat saya membuka mata, saya akan terbangun dan semua ini tidak lebih dari sekedar mimpi indah.

***

Surabaya, 10 Juni 2012,

Akhirnya, saya sampai di kamar kost saya. Saya meletakkan koper serta tas ransel yang telah menemani saya beberapa hari terakhir ini. Menepuk koper saya seperti tepukan kepada sahabat dekat, “Terima kasih telah menemaniku 10 terakhir ini.” Gumam saya dalam hati.

Perlahan-lahan, saya melepas kedua sepatu kets berwarna merah marun saya. Sepatu ini telah mengiringi langkah saya sampai 11.000-an kilometer dari tempat saya hari ini dan telah menapaki ribuan langkah di sana, “Terima kasih telah berjuang sampai sejauh ini.” Begitu kaki saya bebas dari sepatu dan kaos kaki, saya terbelalak kaget, saya mendapati kaki yang nyaris tidak berbentuk. Kaki saya bengkak dari pergelangan kaki sampai tidak tampat mata kakinya. Berulang kali Bunda bertanya apakah saya merasa sakit dan bagaimana bisa saya tidak merasa sakit dengan kaki seperti ini. Tidak, tidak, saya tidak merasa sakit. Saya merasa bahagia. Dan mungkin karena itu lah sakit menjadi tidak ada artinya.

Dear Readers, di sini lah akhir serangkaian cerita tentang my seventh dream – mimpi ketujuh saya. Bersama ini, dengan suka cita saya coret mimpi ketujuh tersebut dari daftar mimpi saya dengan catatan: mission completed. Namun, jangan mengira bahwa mimpi saya sampai di sini. Tertunaikannya mimpi ini, menjadi awal untuk mimipi-mimpi saya lainnya. Saya tahu, kisah ini, bukan lah apa-apa jika dibandingkan pengalaman Anda serta orang-orang hebat lain di luar sana yang telah melanglang buana mengitari dunia. Sungguh, tidak sama sekali terbersit di benak saya untuk membanggakan atau menyombongkan diri dengan pengalaman yang sederhana ini. Jika, terdapat bagian-bagian di tulisan-tulisan saya yang mengindikasikan demikian, saya mohon maaf sedalam-dalamnya …

Lantas, apa tujuan saya menulis kisah ini? Pertama, seperti yang sudah sering saya sebutkan sebelumnya, saya sangat pelupa, dan saya tidak ingin pengalaman ini saya lupakan begitu saja. Dan yang kedua, untuk berbagi dengan Anda bahwa anything is possible if you really want to. Jika saya dengan segala kekurangan saya bisa mewujudkan mimpi saya, saya yakin Anda dapat memiliki pencapaian yang jauh jauh jauh lebih super. Dan saat mimpi Anda terwujud nanti, saya harap Anda tidak segan untuk berbagi dengan saya :)

Semoga cerita ini dapat bermanfaat bagi saya dan Anda.

Ah iya, doakan saya dapat berbagi cerita tentang mimpi-mimpi saya lainnya ya :D

Akhir kata, may all your dreams come true, even the ones they laughed at.

***

“Tidak ada yang dapat menghentikan kita dari menggapai mimpi kita, selain diri kita sendiri. Untuk itu lah, kita harus memperjuangkan dan membela mimpi kita tersebut agar tidak lagi menjadi sekedar mimpi. Jika bukan kita, siapa lagi?”

p.s.:

Dear Readers, thank you for reading and supporting ALIF - it truly means a lot for me. Sadly, I have to inform you that I won’t post more ALIF for a while. But, don’t you worry, if it possible, ALIF will be back soon.

If you don’t mind, please, share your thoughts about ALIF in this post or in ‘Buku Tamu dan Testimoni’ page. So, ALIF will be better in the future. Thank you :)